Kabupaten Berau Surganya Pariwisata

Sudah menjadi rahasia umum bila Kabupaten Berau menyimpan sejuta pesona alam di bumi kandungnya. Mulai dari wilayah pesisir hingga alam bawah laut sudah mendapat pengakuan tentang kemolekan alamnya dari para wisatawan, baik lokal maupun mancanegara. Bukan hanya Kepulauan Derawan atau Pulau Kaniungan saja, ada Pulau Rabu-Rabu dan Kampung Merabu, yang siap menjadi saksi bisu liburan berkesan bagi para wisatawan yang berkunjung ke Bumi Batiwakkal (sebutan Kabupaten Berau-red)
Setiap kali menjelang liburan panjang, terutama pada saat libur lebaran, hampir setiap orang merencanakan perjalanan wisata, baik bersama rekan kerja maupun kerabat dekatnya. Ada banyak destinasi wisata yang bisa menjadi pilihan, seperti Pulau Maratua, Pulau Sangalaki, Pulau Derawan, Pulau Kakaban, hingga Pulau Kaniungan. Semuanya menjanjikan keindahan yang tidak bisa dilukiskan hanya dengan ungkapkan kata-kata. Berikut beberapa objek wisata yang ada di Kab-Berau.
Pulau Maratua adalah pulau terluar Indonesia yang terletak di Laut Sulawesi dan berbatasan dengan negara Malaysia. Pulau Maratua ini merupakan bagian dari wilayah pemerintah Kabupaten Berau, provinsi Kalimantan Timur. Pulau berbentuk kecil panjang dan lengkung tajam ini berada di sebelah selatan dari Kota Tarakan dengan koordinat 2° 15′12″ LU, 118° 38′41″ BT (di bagian batas luarnya). Di pulau ini terdapat Danau Haji Buang dan Danau Tanah Bamban.
Untuk menuju Maratua ada beberapa cara antara lain melalui
Tanjung Redep menggunakan Speedboat atau Susi Air
Tanjung Batu menggunakan Speedboat
Tarakan menggunakan Speedboat
Balikpapan menggunakan Direct Flight Garuda Indonesia
Pulau Maratua memiliki keelokan alam dan bawah laut yang luar biasa. Para divers seperti menemukan surga dan pulau ini disebut-sebut sebagai Maldivesnya Indonesia.Tidak hanya itu, keindahan alam bawah laut Pulau Maratua yang memukau. Terumbu karang yang indah bertipe fringing Reef, didominasi padang lamun dengan jenis Halodule Uninervis beraneka ragam jenis ikan juga turut menemani wisatawan yang pergi menyelam.
Tak heran jika banyak penyelam mengatakannya sebagai surganya para penyelam. Pulau Maratua memiliki banyak spot diving, diantaranya Jetty Dive, Turtle Traffic, Mid Reef, Eel Garden, Hanging Garden, Cabbage Garden, dan The Channel spot.
Selain sebagai wisata bahari, sejak tahun 2015 Maratua juga memiliki acara tahunan yaitu Maratua Jazz and Dive Fiesta yang merupakan gagasan WartaJazz – sebuah ekosistem Jazz di Indonesia bersama Yayasan Berau Lestari (Bestari).
Kepulauan Derawan adalah sebuah kepulauan yang berada di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Di kepulauan ini terdapat sejumlah objek wisata bahari menawan, salah satunya Taman Bawah Laut yang diminati wisatawan mancanegara terutama para penyelam kelas dunia.
Kepulauan Derawan memiliki tiga kecamatan yaitu, Pulau Derawan, Maratua, dan Biduk Biduk, Berau.
Sedikitnya ada empat pulau yang terkenal di kepulauan tersebut, yakni Pulau Maratua, Derawan, Sangalaki, dan Kakaban yang ditinggali satwa langka penyu hijau dan penyu sisik.
Secara geografis, terletak di semenanjung utara perairan laut Kabupaten Berau yang terdiri dari beberapa pulau yaitu Pulau Panjang, Pulau Raburabu, Pulau Samama, Pulau Sangalaki, Pulau Kakaban, Pulau Nabuko, Pulau Maratua dan Pulau Derawan serta beberapa gosong karang seperti gosong Muaras, gosong Pinaka, gosong Buliulin, gosong Masimbung, dan gosong Tababinga.
Di Kepulauan Derawan terdapat beberapa ekosistem pesisir dan pulau kecil yang sangat penting yaitu terumbu karang, padang lamun dan hutan bakau (hutan mangrove). Selain itu banyak spesies yang dilindungi berada di Kepulauan Derawan seperti penyu hijau, penyu sisik, paus, lumba-lumba, kima, ketam kelapa, duyung, ikan barakuda dan beberapa spesies lainnya.
Kepulauan Derawan ini sedang dipromosikan oleh Kabupaten Berau dan Provinsi Kalimantan Timur, sebagai salah satu wisata andalan. Wisatawan lokal dan Mancanegara, makin berwisata disana, pilihan selain untuk menyelam, melihat proses bertelur penyu, juga menikmati pantai yang bersih dan indah. Sepanjang pantai bersih dan tidak ada sampah. Fasilitas komunikasi di Kepulauan Derawan sudah baik, sebagai contohnya adalah sudah terjangkau dengan sinyal 3G.
Resort dan Penginapan yang ada di Kepulauan Derawan banyak tersebar di pinggir pantai, dengan harga yang lebih murah misalnya dibandingkan dengan tempat wisata di Bali maupun di Lombok.
Kepulauan Derawan telah dicalonkan untuk menjadi Situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun 2005.
Pulau Sangalaki mempunyai luas 15,9 hektare, terletak di Kepulauan Derawan, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.
Memiliki satuan morfologi dataran pantai yang datar. Pulau ini memiliki lagon dangkal berdasar pasir dan ditumbuhi oleh karang dan lamun.
Pantai pasir memiliki lebar 12-15 meter dengan kelerengan antara 6°-11° dengan material penyusun pantai berupa fragmen karang dan dominan berukuran butir pasir kasar. Di perairan sekitarnya terdapat taman laut dan terkenal sebagai wisata selam(diving). Terdapat beraneka ragam biota laut di sini, yang terkenal adalah ikan pari manta.
Ikan pari manta biasa berkelompok di perairan pulau ini dan dapat berkumpul hingga 20 ekor pari pada saat terang bulan. Mereka menuju ke pulau ini untuk mencari makan berupa bermacam-macam jenis plankton yang banyak terdapat di perairan ini.

Pulau Sangalaki 
Pulau Sangalaki, di sana pengunjung bisa menyaksikan langsung tukik-tukik kecil dilepaskan ke pantai, berenang mengarungi ombak untuk kembali ke daratan yang sama setelah beberapa tahun kemudian. Sedangkan Pulau Derawan, tidak perlu banyak dijelaskan. Pulau ini sudah terkenal sebagai salah satu kepulauan dengan spot diving terbaik hingga ke level internasional.
Pulau Kakaban mempunyai luas 774,2 hektar dan terletak di Kepulauan Derawan, Kecamatan Derawan, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.
Pulau Kakaban menarik perhatian turis-turis mancanegara dengan beberapa keunikannya, salah satunya adanya danau di pulau tersebut yaitu Danau Kakaban. Yang mana pada danau tersebut diisi oleh campuran dari air hujan dan rembesan air lautdari pori-pori tanah dan membuat suatu habitat endemik yang berbeda pada kebanyakan kawasan danau lain di dunia, selain Danau Kakaban ada satu lagi danau dengan air payau yaitu di Kepulauan Palau, Mikronesia. Di danau Kakaban dapat di temukan jenis ubur – ubur yang tidak menyengat, diperkirakan ribuan tahun yang lalu ubur – ubur tersebut terperangkap dan berevolusi untuk dapat berfotosintesis di mana hampir tidak ada hewan lain mampu melakukannya, ada empat jenis ubur ubur di danau Kakaban antara lain golden Jellyfish dan Moon Jellyfish. Disamping danau Kakaban juga terdapat Kehe Daeng yang artinya Lobang Ikan, disaat air laut surut goa sempit yang semula terendam akan muncul di permukaan sehingga terumbu yang berwarna warni serta serta bintang laut dapat dengan mudah disentuh.

Pulau Kakaban 
Yang menarik adalah Pulau Kakaban. Di sana ada spesies ubur-ubur yang tidak menyengat. Kabarnya ubur-ubur tidak menyengat seperti yang ada di danau Pulau Kakaban tersebut hanya ada di dua tempat di dunia, dan salah satunya adalah di Pulau Kakaban itu sendiri. Begitu pula jika berkunjung ke Pulau Kaniungan, ada banyak keistimewaan yang disajikan oleh alam pulau yang juga menjadi bagian dari Kampung Teluk Sumbang tersebut.

Keberagaman kekayaan alam itulah yang memancing kedatangan ribuan, bahkan puluhan ribu wisatawan ke Kabupaten Berau setiap tahunnya dengan menggunakan transportasi darat, laut maupun udara.
Biasanya, puncak kunjungan wisatawan terjadi pada libur lebaran dan tahun baru. Bahkan, pada kedua momentum itu, untuk menikmati keunikan Danau Dua Rasa, Labuan Cermin, wisatawan harus rela mengantri. Tidak jarang banyak yang harus kembali lagi keesokan harinya, dikarenakan antrian yang cukup panjang.
Oleh warga setempat, lonjakan wisatawan dijadikan lahan mengais rejeki tahunan. Ada yang sengaja menyiapkan rumahnya sebagai penginapan dadakan, ada pula yang menjadi tour guide (pemandu wisata) sebagai pekerjaan sampingan, dan juga penyedia jasa kapal penyeberangan ke berbagai detinasi tujuan.
Pulau Kaniungan yang terletak di Kecamatan Biduk-Biduk, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Tak mudah untuk menjangkaunya. Karena itu pula, pulau yang sebenarnya terbagi jadi dua, Kaniungan Besar dan Kecil itu, masih terjaga keasriannya. Tak banyak sentuhan tangan manusia yang telah menjamahnya. Kedua buah pulau ini dikelilingi oleh terumbu karang yang indah.
Pulau yang luasnya hampir menyerupai Pulau Derawan ini, selain dikenal akan keindahan pasir putihnya, rupanya juga menjadi surga tersembunyi bagi pencinta foto macro underwater photography. Anda dapat menyempatkan snorkeling di sini. Terumbu karangnya sangat beragam dan berwarna warni. Soft coral dan hard coral menghiasi taman bawah laut Pulau Kaniungan. Pulau ini dihuni oleh beberapa masyarakat yang memiliki mata pencaharian sebagai nelayan dan beberapa dari mereka juga yang memproduksi minyak goreng yang berasal dari kelapa (kopra).
Dua pulau itu juga jadi tempat penyu bertelur. Aktivitas manusia yang masih terbilang minim di tempat indah tersebut, menjadikan hewan yang jadi simbol Berau itu tetap lestari. Selain dapat menikmati keindahan bawah lautnya, pulau yang masih alami dengan rindangnya pepohonan kelapa, menambah suasana semakin mengasyikkan. Bahkan jika beruntung, Anda bisa menikmati kawanan lumba-lumba dan paus kecil yang sering menampakkan diri dan tengah asik bermain.
Bukti sejarah Pulau Kaniungan Besar pernah jadi perlindungan pelaut yang ingin mendarat adalah komplek kuburan yang berada di tengah-tengah pulau. Ada beberapa nisan, yang terbuat dari kayu dan batu, dan saat ini kondisinya sangat memprihatinkan karena minimnya perawatan. para pengunjung di pulau ini sebagian besar adalah para pengantin baru yang sedang menikmati masa Honey Moon. Di pulau ini sinyal hp tidak ada, sehingga suasana begitu sepi, tenang dan hening dan sangat pas untuk relaksasi.
Tersedia 2 resort yang bisa disewakan untuk para pengunjung, khususnya yang sedang honeymoon. Untuk dapat menuju pulau ini, kini cukup mudah, dimulai dari menempuh perjalanan darat selama 5 jam dari Tanjung Redeb, serta menyewa kapal penyeberangan milik nelayan setempat sebesar Rp 500 ribu untuk pulang pergi (isi 1 penumpang atau lebih), Anda sudah bisa menuju pulau yang berada tepat di ujung selatan Kabupaten Berau ini.
Derasnya kunjungan wisatawan yang datang ke Kabupaten Berau, membuat Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau tidak perlu bersusah payah melakukan promosi. Pihaknya hanya memperkuat kerjasama dengan berbagai instansi dan lembaga termasuk aparat keamanan untuk menertibkan arus lalu lintas sepanjang masa liburan. Mulai dari aparat kepolisian, Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo), hingga Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) yang bertugas menjaga kondusifitas berjalannya masa liburan.
Biduk-Biduk. Enam kampung di dalamnya menyimpan keindahan alam yang siap memanjakan mata para pelancong.
Jika biasanya wisatawan yang melancong ke Berau mengarahkan langkah ke Derawan, kini Anda bisa menjelajah Biduk-Biduk di belahan lain Berau.
Kebanyakan penginapan di Biduk-Biduk berlokasi di Jalan Belimbing, satu dari sedikit jalan beraspal di wilayah ini. Tarif sewa kamar per malam mulai dari Rp150 ribu per malam untuk kamar tanpa pendingin ruangan.
Eksplorasi Biduk-Biduk bisa dimulai di Teluk Sulaiman, sekitar delapan kilometer dari Jalan Belimbing. Pantai di teluk ini berpasir putih, airnya jernih, dikelilingi hutan bakau.
Dari Pelabuhan Teluk Sulaiman, wisatawan dapat menumpang perahu dengan ongkos sewa sekitar Rp600 ribu. Perahu ini akan mengantar Anda dari Teluk Sulaiman ke Kampung Teluk Sumbang, main di Pulau Kaniungan Besar, kembali ke Teluk Sulaiman. Perahu dapat memuat enam hingga delapan penumpang.
Satu jam perjalanan perahu akan membawa Anda ke Kampung Teluk Sumbang. Di sini ada tiga air terjun, dua di antaranya adalah Air Terjun Penimpul dan Air Terjun Bidadari.
Sayangnya, di sekitar lokasi belum ada penginapan. Jadi pelancong biasanya hanya bisa menyambangi satu air terjun saja.
Dari Teluk Sumbang, eksplorasi bisa dilanjutkan menuju Pulau Kaniungan Besar, lama perjalanan sekitar 30 menit. Pulau berpasir putih ini dihuni sekitar 18 kepala keluarga, bahkan juga memiliki resort.
Pohon kelapa menjulang tinggi berbaris rapi memenuhi bibir pantai. Wisatawan dapat bersantai di Warung Nelayan, satu-satunya resto sekaligus penginapan di pulau yang luasnya tiga kali Pulau Derawan.
Selain Pulau Kaniungan Besar, ada pula Pulau Kaniungan Kecil yang tak berpenghuni. Keduanya sama-sama sepi, cocok untuk yang mencari ketenangan.

Biduk-biduk
Labuan Cermin, bukan pantai bukan pula pegunungan, tempat ini merupakan danau yang memiliki keindahan yang membuat berdecak kagum siapa saja yang mengunjunginya. Danau Labuan Cermin terletak di Desa Labuan Kelambu di Kecamatan Biduk-biduk Kalimantan Timur yang bisa ditempuh dengan perjalanan darat sekitar 6 sampai 7 jam dari ibukota Kabupaten Berau, Tanjung Redeb, Kalimantan Timur. Meski perjalanan cukup jauh, rasa lelah akan segera terobati begitu melihat keindahan alam yang ada di Labuan Cermin.
Untuk mencapai Danau Labuan Cermin, pengunjung harus menyewa kapal dari dermaga dengan harga sewa kapal 200.000 untuk perjalanan pulang-pergi, dan akan lebih murah jika Anda datang bersama rombongan. Sesampainya di sana dijamin pengunjung akan dibuat terpana oleh kecantikan danau ini. Danau Labuan Cermin memiliki air yang sangat jernih, bahkan dasar dari danau yang berupa pasir laut inipun bisa terlihat dengan jelas. Mengapa dinamakan Labuan Cermin? Ini dikarenakan Labuan Cermin memiliki lapisan yang membuat cahaya matahari memantul. Hal tersebut terjadi karena Danau Labuan Cermin memiliki rasa asin yang akan terasa bila kita mengecap air dari permukaan danau, sementara air di dasar danau akan terasa tawar. Dua jenis air inilah yang membuat danau memiliki sebuah lapisan pemisah sehingga air dapat memantul. Tak jarang juga orang menyebut danau Labuan Cermin ini dengan panggilan ‘Danau Dua Rasa’. Meski terlihat dangkal, harus tetap waspada karena kedalaman danau ini sebenarnya mencapai 4 hingga 5 meter.
Pemandangan di sekitar Danau Labuan Cermin sangat menenangkan. Dikelilingi pepohonan rimbun yang membuat suasana sangat teduh, sehingga sangat tepat dijadikan tujuan wisata untuk sejenak melarikan diri dari keramaian yang kerap ditemui setiap hari. Konon bupati setempat memang mengembangkan Labuan Cermin sebagai destinasi wisata diawali dengan menetapkan kawasan ini sebagai kawasan konservasi atau kawasan lindung, setelah itu akan dilengkapi sarana penunjang yang akan memudahkan pengunjung menikmati keindahan danau sejuk yang memiliki dua rasa ini.
Saat berada di Labuan Cermin, pengunjung dapat melakukan aktivitas berenang, snorkeling dan juga menyelam. Saat menyelam menggunakan kacamata snorkeling, akan terlihat beberapa ikan yang berenang tidak jauh dari permukaan dan ada pula yang jauh di dasarnya. Rasa dari air yang berbeda menyebabkan ikan-ikan terpisah. Ini dapat mempermudah membedakan mana jenis ikan air tawar dan yang mana ikan air laut.
Sebelum menuju ke Labuan Cermin, jangan lupa persiapkan alat snorkeling sendiri atau bagi yang lupa membawanya tidak usah khawatir. Di dermaga tempat penyebrangan terdapat toko penyewaan alat snorkelingbeserta pelampungnya. Bagi yang ingin sekedar bermain air dan bersantai ria di atas ban, di Labuan Cerminnya pun tersedia penyewaan ban dalam mobil bahkan perahu air yang memiliki kaca transparan di bawahnya. Untuk penginapan dapat didapatkan di sekitar Biduk-Biduk dengan harga penginapan yang beragam, yaitu mulai dari seratus ribu rupiah hingga tiga ratus ribu rupiah per malamnya. Atau untuk para penganut perjalanan murah/backpacking, bisa juga menginap di rumah warga di sekitar Biduk-biduk.
“Kalau promosi kami rasa sudah cukup. Wisatawan yang datang ke Berau setiap tahunnya itu terus meningkat, mungkin karena promosi dari satu wisatawan ke wisatawan lain yang juga turut membantu mempromosikannya secara tidak langsung,” ujar Saprudin Ithur, Kepala Bidang Kebudayaan di Disbudpar Berau.
Tak kalah dengan pulau-pulau lainnya, ada satu pulau yang diyakininya bakal menjadi spot andalan selanjutnya setelah beberapa pulau yang ada. Pulau Rabu-Rabu, yang berada di Kecamatan Derawan juga diperkirakan akan menjadi lokasi menakjubkan bagi pencinta diving.

Wisata Mangrove berbagai potensi wisata yang ada di Kabupaten Berau terus dikembangkan untuk meningkatkan kunjungan wisatawan, seperti yang ada di Kampung Tanjung Batu, Kecamatan Pulau Derawan. Saat ini, pemerintah bersama pihak swasta sedang membangun objek wisata mangrove dengan luasan 1.200 meter persegi.
Saat ini pembangunan objek wisata ini sudah mencapai 80 persen. Tinggal menyelesaikan beberapa sarana lagi sebelum dibuka untuk publik dan dikelola. Diharapkan pengerjaan bisa selesai sebelum akhir tahun nanti.
Disampaikan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau, Mappasikra Mappseleng, wisata mangrove ini akan menambah referensi destinasi wisata di Berau. Jadi wisatawan bisa menikmati objek wisata ini sebelum berkunjung ke objek wisata lainnya.
“Kan di sini pintu masuk wisata bahari. Wisatawan bisa mampir ke sini dulu sebelum ke pulau,” jelasnya, Selasa (31/10/2017).
Dipilihnya Tanjung Batu sebagai pengembangan wisata ini, lantaran keanekaragaman mangrove yang ada ada di dalamnya. Dimana, ada beberapa jenis yang tidak bisa ditemukan di daerah lain. Hal ini pun menjadi peluang dalam pengembangannya. Selain sebagai objek wisata, destinasi ini bisa dijadikan sebagai pusat informasi mangrove di Kalimantan Timur.
“Populasi mangrove terbesar di Berau ada di sini. Tentu dengan keragaman spesiesnya kita optimis destinasi ini bisa menarik banyak wisatawan,” ujarnya.
Disbudpar, dikatakannya Mappasikra, terus memberikan dukungan penuh kepada seluruh pihak yang ingin membantu dalam pengembangan wisata di Bumi Batiwakkal. Ia menilai, destinasi yang ada di Berau sangat beragam dan lengkap, tentunya memberikan pilihan bagi investor untuk membangun.
“Kalau untuk pengelolaannya kita serahkan kepada kampung dan investor yang membangun. Yang jelas bakal membantu dalam meningkatkan perekonomian masyarakat nantinya,” imbuhnya.
Dukungan serupa juga disampaikan Camat Pulau Derawan, Kudarat. Dikatakannya, pihaknya memberikan dukungan penuh terhadap investasi yang masuk, khususnya dalam pengembangan wisata. Apalagi, saat ini pemerintah juga fokus dalam membangun destinasi wisata yang ada di Berau.
Ia mengakui, pembangunan wisata mangrove ini mendapat tanggapan positif dari seluruh masyarakat. Hal ini terlihat dari kunjungan masyarakat yang datang ke sana meskipun masih dalam proses pembangunan.
“Walaupun mangrove ini sudah lama di sini, tapi dengan sentuhan pembangunan bisa menarik minat masyarakat untuk datang. Dari sini bisa terlihat bahwa objek wisata ini sangat berpotensi besar,” katanya.(hms5/bnc)

Pulau Bakungan, selama ini banyak traveller Indonesia mengincar Maldives karena kejernihan pantainya. Padahal, di Indonesia sendiri masih banyak pulau serupa dengan Maldives.
Salah satunya berada di kawasan Berau, Kalimantan Timur. Di sana ada Pulau Bakungan, yang sangat cantik dan indah sekali.
Latar pemandangan begitu sempurna, di mana Anda akan dimanjakan dengan pasir putih yang bersih. Air bibir pantai berwarna toska, bercampur biru yang sangat instagramabel.
Pulau ini menjadi favorit anak muda kekinian untuk berlibur khususnya warga Kalimantan Timur. Di sana juga begitu eksotis bertaburkan binatang laut yang unik saat berada di bawah laut.
Dikarenakan keindahannya, tanpa harus diedit menggunakan filter, foto salah satu travelers @samuelmarbun92, membuat iri banyak orang. Rasanya seperti sedang tersesat di surga yang indah sekali.

Kampung Merabu “Tahun lalu (2015-red) wisatawan yang mengunjungi Kampung Merabu memang belum mencapai ribuan, tetapi melihat perkembangan dan kemajuan serta keterbukaan masyarakatnya dalam mengolah kampung, saya yakin tahun ini kunjungan ke kampung ini juga akan bertambah,” ucapnya dengan nada optimis.
Meski begitu, destinasi manapun yang menjadi tujuan wisatawan yang berkunjung ke Berau, pihaknya berharap agar semua pihak menjalankan perannya masing-masing agar kenyamanan pada hari libur panjang dapat dirasakan para wisatawan.

“Baik itu dinas kebersihan, BLH, Aparat Kepolisian, Dinas Perhubungan, Satpol PP, maupun lembaga-lembaga masyarakat harus bersama-sama menjalankan perannya demi kenyamanan kita semua, terutama mereka yang berkunjung. Karena kesan pertama yang akan menjadi nilai jual kita selanjutnya kepada para wisatawan yang datang,” ungkapnya mengakhiri perbincangan dengan beraunews.com, Sabtu (18/6/2016).(mta)
Goa Mulut Besar , tak hanya memiliki pulau dan pantai cantik, Berau juga punya wisata lain yang tak kalah menawannya, yaitu Goa Mulut Besar yang berada di Kampung Merasa, Kecamatan Kelay. Goa yang juga sering disebut goa kelelawar ini memiliki diameter mulut goa yang sangat besar, yaitu tinggi 10 meter dan lebar 20 meter.
Bagian dalam goa ini juga sama besarnya dengan mulut goa, sehingga pengunjung bisa dengan bebas mengeskplor bagian dalam gua yang dipenuhi kelelawar ini. Selain itu, di dalam goa kamu juga bisa melihat berbagai jenis batuan alam cantik nan eksotis yang terbentuk sejak ribuan tahun lalu. Lokasi Kampung Merasa hanya berjarak 1,5 jam dari Tanjung Redeb sehingga tidak terlalu sulit untuk menemukan keberadaan goa eksotis ini.

Air Terjun Jenum, masih di Kampung Merasa, Kecamatan Kelay kamu bisa menemukan air terjun cantik bernama air terjun Jenum. Air terjun yang berada di tengah hutan ini masih tergolong air terjun perawan dengan suasana yang begitu menenangkan. Disini kamu bisa mandi di bawah air terjun atau sekedar berburu foto keren untuk dipajang di Instagram.
Akses menuju Berau juga semakin mudah lho! Kamu bisa naik pesawat menuju Bandara Kalimarau yang ada di Berau. Meski tidak ada rute langsung dari kota besar seperti Jakarta, namun kamu bisa memesan tiket pesawat ke Balikpapan lalu melanjutkan penerbangan ke Berau.

Air Terjun Tembalang, satu per satu keindahan alam Kabupaten Berau mulai terkuak. Bukan hanya keindahan bawah laut, namun saat ini objek wisata alam juga tengah menjadi primadona di kalangan pecinta alam.
Kampung Tepian Buah, Kecamatan Segah misalnya. Siapa yang menduga, jika kecamatan yang berbatasan dengan Kabupaten Bulungan itu, selain menjadi salah satu kecamatan yang menjadi kawasan perkebunan kelapa sawit terbesar, ternyata menyimpan pesona wisata alam yang mempu membuat pengunjung terpesona lantaran keasrian dan keindahan alamnya.
Ditemukan awal tahun 2016, warga sekitar menyebutnya sebagai air terjun tembalang. Kepala Kampung Tepian Buah, Surya Emisusianti mengaku, jika keberadaan air terjun tembalang yang baru ditemukan warga tersebut telah ramai dikunjungi terlebih di akhir pekan.
“Kita sudah laporkan soal air terjun ini ke Dinas Pariwisata, dan Bupati. Ini aset baru bagi kita untuk dikelola. Dengan adanya objek wisata air terjun tembalang, warga sini tiap minggu ramai berkunjung. Ini membuktikan kalau Berau itu bukan cuma punya laut tapi juga alam yang indah,” ungkapnya kepada beraunews.com, Senin (31/10/2016).
Dikatakan Emi (sapaan akrabnya), saat ini untuk bisa menuju lokasi air terjun temblang, para pengunjung akan melewati rintangan yang memang cukup berat. Sebab, harus menempuh perjalanan selama 1,5 jam dengan menembus hutan belantara. Namun demikian, selama perjalanan pengunjung juga akan menikmati suasana hutan yang masih alami. Tetapi, rasa lelah selama perjalanan akan segera hilang, ketika tiba di lokasi air terjun
“Jalannya memang masih setapak, kita mau bikin jalan yang agak lebar tapi masih takut karena hutan itu hutan KBK (Kawasan Budidaya Kehutanan-red). Sehingga harus izin ke Kementerian Kehutanan. Tapi informasi yang saya dapat Wabup (Agus Tantomo-red) sudah laporkan ke Kementerian Kehutanan dan sudah dapat izin, tinggal koordinasi dengan Inhutani,” bebernya.
Untuk menggembangkan objek wisata baru di wilayah Kampung Tepian Buah itu, Emi juga telah membentuk Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) yang beranggotakan para pemuda di kampung. Selain untuk menjaga objek wisata, para pemuda kampung juga diajak belajar mengelola wisata di wilayah mereka secara mandiri.
“Pokdarwis sudah kita bentuk, sekarang kita sudah mulai kelola sedikti demi sedikit. Tahun depan kita coba anggarkan untuk pengelolaan secara maksimal biar bisa menjadi tambahan untuk pendapatan asli desa,” pungkasnya.(M.S. Zuhrie)



